Warga Jakarta dan Ribuan Ton Sampahnya

14 December 2018

Ada 7.400 ribu ton sampah yang dikirim ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang oleh penduduk Jakarta setiap harinya. Jika dihitung secara volume, jumlah sampah itu dapat mencapai setengah volume Candi Borobudur.

Perbandingan lainnya, jika sampah ini dibawa dengan truk sampah, maka panjangnya dapat mencapai dua kali panjang Jalan Jendral Sudirman.

Sampah sebanyak ini bukan tanpa alasan, karena dalam seminggu setiap orang di Jakarta rata-rata menghasilkan 5,6 kg sampah. Padahal, ada 11 juta jumlah penduduk tetap dan sementara di Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta sendiri memproyeksikan produksi sampah Jakarta akan meningkat seiring dengan kenaikan jumlah penduduk.

Persoalan sampah di Jakarta menjadi semakin pelik karena tidak seluruh sampah terangkut ke TPST Bantargebang. Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta ada 397 ton sampah yang tidak terangkut.

Sampah yang tidak terangkut ini sering kali tidak terkelola dengan baik, contohnya dibakar oleh warga atau mengalir ke sungai lalu ke laut sehingga menyebabkan lebih banyak masalah di kemudian hari.

Ke depannya permasalahan yang ada bukan hanya seputar jumlah dan volume sampah, tetapi penanganan sampah itu sendiri, baik di hulu maupun di hilir.

Warga DKI Jakarta juga perlu menyadari bahwa kita tidak dapat bergantung secara terus menerus pada TPST Bantargebang. Pemerintah DKI Jakarta sudah menyampaikan bahwa pada tahun 2018 kapasitas TPST Bantargebang sudah mencapai 80% dari kapasitas maksimum, dan diprediksi dalam waktu tiga tahun lagi akan penuh.

Maka dari itu, perlu ada solusi bersama dari Pemerintah Provinsi dan masyarakat untuk menyelesaikan masalah darurat sampah di Jakarta.

Karena tiga tahun adalah waktu yang singkat, dan kita harus menyelamatkan kota kita dari ancaman sampah.