Teknologi Insinerator yang Ramah Lingkungan

18 December 2018

 

Di berbagai negara berkembang, seperti Singapura, Jerman, Perancis, dan Norwegia fasilitas insinerator menjadi jawaban yang paling efektif dan efisien untuk pengelolaan sampah.

Pemerintah DKI Jakarta sendiri sudah memutuskan untuk mendirikan insinerator dalam menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia atas pengelolaan sampah untuk jangka panjang. DKI Jakarta tidak dapat bergantung terus-menerus kepada Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, karena lokasi ini diprediksi akan penuh pada tahun 2021.

Walaupun fasilitas insinerator sendiri bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia, masih banyak yang memiliki pemahaman bahwa fasilitas insinerator hanya bekerja dengan membakar sampah hingga habis.

Pemahaman tersebut tidaklah salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.

Teknologi insinerator lebih dari sekedar membakar, tapi mengolah sampah secara berkelanjutan, dengan memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari dan pada saat bersamaan memastikan hasil pengolahannya terbebas dari polusi udara. Proses ini disebut dengan Waste to Energy (WtE), sementara fasilitas pengolahannya disebut dengan Intermediate Treatment Facility (ITF). Keunggulan lain dari fasilitas ini adalah ia tidak membutuhkan area yang luas.

Untuk lebih jelasnya,  berikut adalah beberapa teknologi fasilitas ITF yang akan didirikan di Sunter:

Teknologi Pengumpulan Sampah

Truk compactor akan mengambil sampah dari warga dan mengantarkannya ke area penampungan sampah di ITF. Truk compactor adalah truk khusus yang dapat menjaga sampah tidak tercecer dan memiliki kapasitas lebih besar dari truk konvensional. Area penampungan di ITF juga dibuat tertutup untuk mencegah tersebarnya bau sampah ke luar area ITF.

Teknologi Insinerasi

Sampah dari tempat penampungan kemudian diangkat dan dimasukkan ke area insinerator dengan suhu minimal 800oC dan dapat mencapai suhu 1000oC. Suhu panas dari proses ini akan memastikan zat dioksin yang berbahaya tidak terbentuk dan panasnya dapat diolah menjadi energi bermanfaat, seperti energi listrik.

Sebagai contoh, fasilitas insinerator di kota Paris merupakan fasilitas yang paling modern saat ini. Kota ini membangun ITF pertamanya di tahun 1969 dan terus dimodernisasi dari waktu ke waktu. Hingga kini, Paris telah memiliki tiga ITF yang menyuplai 50% permintaan energi untuk pemanas ruangan di kota menara Eiffel tersebut.

Teknologi Netralisasi Zat Berbahaya

Untuk memastikan bahwa gas buang yang dikeluarkan melalui cerobong asap terbebas dari polusi udara, maka hasil insinerasi akan melewati tahap netralisasi zat berbahaya di area penyaring debu yang disebut electrostatic precipitator. Teknologi penyaring ini mengikuti disiplin standar Eropa yang dikenal sebagai salah satu standar terbaik di dunia.

Sebagai contoh di Zurich, Swiss, lokasi insinerator terletak di tengah-tengah pemukiman warga. Hal ini mempermudah pengelolaan sampah dan energi di kota tersebut.

Dengan semua teknologi ini, ITF menjadi jawaban bagi persoalan darurat sampah di Jakarta. Karenanya, mari kita dukung pembangunan ITF di Jakarta.