Kenapa Jakarta Butuh Teknologi Pengelolaan Sampah ITF?

12 Maret 2019

Pernahkah kita bertanya, ke mana sampah yang kita buang? Apakah setelah sampah meninggalkan tangan kita, lantas permasalahan seputar sampah selesai.

Setiap minggunya seorang warga Jakarta menghasilkan sekitar 5,6 kg sampah. Tentunya kita bisa bayangkan betapa banyaknya sampah yang meninggalkan tangan dan kemungkinan tak semuanya berakhir di tempat yang seharusnya.

Bayangkan apabila sampah yang tidak terangkut ke Bantargebang setiap harinya tercecer dan berakhir di sungai dan laut. Kalau sudah begitu akan lebih banyak sampah daripada ikan di laut.

Saat ini Jakarta membutuhkan fasilitas pengelolaan sampah yang lebih efektif dan terpadu untuk mengatasi masalah sampah ibukota yang sudah memasuki tahap darurat. Dalam waktu tiga tahun, TPST Bantargebang tidak dapat lagi menampung sampah kita.

Itulah mengapa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membangun fasilitas pengelolaan sampah ramah lingkungan Intermediate Treatment Facility (ITF) di daerah Sunter, Jakarta Utara.

Teknologi tinggi ramah lingkungan yang akan diimplementasikan di ITF Sunter mengikuti standar ketat Uni Eropa dan sudah digunakan di berbagai kota-kota besar di negara maju di seluruh dunia seperti Paris, Nuremberg, Helsinki dan kota lainnya.

Di Indonesia, tentunya masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya dikenal dengan teknologi ITF ini serta dampak dan manfaatnya pada masalah pengelolaan sampah ibukota.

Berikut adalah beberapa informasi yang lebih mendalam seputar kehadiran ITF Sunter untuk menjawab prasangka yang mungkin muncul di tengah masyarakat.

Prasangka 1: Jakarta tidak membutuhkan fasilitas seperti ITF

Faktanya, DKI Jakarta saat ini memproduksi 7.400 ton sampah setiap harinya dan bergantung sepenuhnya pada TPST Bantargebang untuk menampung sampah tersebut. Padahal saat ini kapasitas TPST Bantargebang untuk menampung sampah hanya bisa sampai tiga tahun ke depan. Jika kapasitas tersebut mencapai batas maksimum, maka Jakarta tidak akan memiliki tempat untuk menampung sampah.

Untuk itu diperlukan langkah yang cepat, tepat, dan ramah lingkungan untuk membantu menangani sampah di Jakarta dan mengurangi ketergantungan kita terhadap Bantargebang. Langkah tersebut hadir dalam bentuk fasilitas ITF Sunter yang mampu mengolah 2.200 ton sampah setiap harinya dan mereduksi sampah tersebut sampai dengan 80% volumenya.

Prasangka 2: Fasilitas ITF tidak seharusnya berada di pemukiman warga karena bahaya polusi

Faktanya, sebagian besar dari ITF berada di tengah kota-kota besar di seluruh dunia seperti Singapura; Kopenhagen, Denmark; Bergen, Norwegia; dan Paris, Perancis. Keberadaan fasilitas di tengah kota tersebut juga mengurangi polusi dari proses transportasi sampah dan memudahkan proses pengaliran energi dan panas ke kota tersebut.

Bagaimana dengan polusi, terutama dioksin?

ITF Sunter akan menggunakan teknologi netralisasi gas berbahaya berstandar Eropa. Standar ini memastikan bahwa gas yang dihasilkan dari pengolahan sampah tersebut (flue gas) tidak akan berbahaya bagi lingkungan. Sebagai contoh, di bawah ini adalah emisi dioksin dan furan (dalam ng/Nm3) yang dikeluarkan oleh fasilitas ITF di Klaiped, Lituania. Dapat dilihat bahwa jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan ketentuan batas dari pemerintah Uni Eropa.

Prasangka 3: Fasilitas ITF hanya dapat mengurangi jumlah sampah yang akan datang ke Bantargebang, tapi tidak menyelamatkan Bantargebang ke depannya.

Untuk saat ini fasilitas ITF ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah yang datang ke Bantargebang. Ke depannya, pemerintah DKI Jakarta akan membangun beberapa fasilitas ITF yang akan mampu mengolah seluruh sampah yang diproduksi oleh penduduk DKI Jakarta.

Selain itu, untuk pengembangan pengelolaan sampah ke depannya, pemerintah DKI Jakarta juga akan melakukan beberapa langkah seperti optimalisasi Bantargebang, pendirian Jakarta Recycling Center, dan mengedukasi warga untuk memilah sampah dan melakukan 3R. Hal ini akan memastikan Jakarta dapat mengolah sampahnya secara mandiri.

Untuk lebih jelasnya silakan menonton video ini untuk melihat rencana Pemprov DKI Jakarta untuk masa depan pengolahan sampah di DKI Jakarta.